Senin, 23 April 2012

Menjadi Pemecah Masalah


Dalam hal masalah hidup pada dasarnya ada 2 jenis manusia :

(a) Troublemaker = biang kerok/ pembuat masalah
Ini biasanya adalah orang-orang yang terluka, yang suka cari gara-gara. Masalah kecil sering mereka besar-besarkan.

(b) Problem solver = pemecah masalah
Ini adalah tipe yang matang, yang suka mendamaikan suasana dan mencari jalan keluar dari setiap permasalahan yang ada. Tipe ini suka membuat masalah besar menjadi kecil, masalah kecil menjadi tidak ada!
 
1 Yoh 5:4, sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita
Salah satu tokoh alkitab yang merupakan tipe problem solver adalah Yusuf. Kita akan melihat bagaimana Yusuf mengatasi masalah demi masalah yang dihadainya dengan sukses.

Seni Mengatasi Masalah Hidup

Setiap hari kita menghadapi masalah hidup yang beragam. Jadi masalah selalu ada, yang penting adalah bagaimana kita merespon masalah itu. Kita akan belajar dari Yusuf tentang hal ini.

Inilah daftar permasalahan besar yang dihadapi Yusuf:

1. Menghadapi kecemburuan dan iri hati

Masalah besar pertama yang dihadapi Yusuf adalah rasa iri hati dari saudara-saudaranya. Hal ini terjadi karena beberapa sebab:

(a) Ia merupakan anak favorit ayahnya (Kejadian 37:3)
Entah kenapa Yakob lebih mengasihi Yusuf dibanding ke 11 saudaranya yang lain. Ia memperlakukan Yusuf secara berbeda. Terbukti ia minta dibuatkan jubah yang mewah bagi Yusuf.

(b) Ia pernah melaporkan kejahatan saudara-saudaranya (Kejadian 37:2)
Kakak-kakaknya semakin jengkel kepada Yusuf karena ia suka melaporkan kejahatan mereka kepada sang ayah. Lalu bagaimana Yusuf merespon masalah ini? Ada 2 sikap yang diambil Yusuf:

Yang pertama, ia menunjukkan kasih kepada saudara-saudaranya (Kejadian 37:13-17). Ketika disuruh sang ayah untuk mencari kakak-kakaknya yang sedang menggembalakan kambing domba, Yusuf mencari mereka sampai ketemu. Ia bahkan harus tanya kesana-kemari untuk dapat menemukan mereka. Ini menunjukkan bahwa Yusuf sungguh-sungguh mengasihi mereka. Ini sikap yang luar biasa: tetap mengasihi meskipun dibenci!

Kedua, ia tidak membalas perlakuan saudara-saudaranya. Sekalipun dalam beberapa kesempatan kakak-kakaknya berkata kasar kepada Yusuf, tapi Yusuf tetap berkata hormat kepada mereka. Ini menunjukkan kelapangan hati Yusuf yang luar biasa (Roma 12:17).

2. Menghadapi ketidaknyamanan (Kejadian 37:18-20)


Masalah ke dua yang dihadapi Yusuf adalah ketidaknyamanan yang tiba-tiba dialaminya. Dia dimasukkan ke dalam sumur, lalu di jual kepada pedagang Ismail ke Mesir sebagai budak. Lalu bagaimana respon Yusuf?

(a) Ia tetap tenang
Sekalipun menderita Yusuf tidak panik dan putus harapan. Ia tahu hidupnya aman ditangan Tuhan yang mengasihinya! Tetap tenang di tengah keadaan yang tidak nyaman/penderitaan adalah ciri orang beriman!

(b) Ia tidak menyalahkan Tuhan
Yusuf juga tidak mengumpat dan menyalahkan Tuhan atas masalah yang ia hadapi.
Ia tahu ada rencana Tuhan atas apa yang terjadi pada dirinya. Hanya ia belum tahu apa itu rencana Tuhan ke depan atas hidupnya.

3. Menghadapi godaan terus menerus (Kejadian 39:7)


Yusuf menjadi orang kepercayaan Potifar. Tapi masalah kemudian justru datang dari istri potifar. Ia menggoda Yusuf terus menerus! Jadi, bukan hanya sekali, namun berkali-kali. Puncaknya, ketika istri Potifar mengajaknya tidur. Lalu, apa respon Yusuf?

(a) Yusuf tidak mau mendengarkan bujukan istri Potifar (Kejadian 39:10)
Dosa masuk ke dalam hidup kita biasanya melalui indera kita. Bisa melalui mata, sentuhan, atau telinga. Hebatnya Yusuf: ia menutup telinganya terhadap bujuk rayu dosa. Bandingkan dengan Hawa yang justru membuka telinganya untuk ditipu si ular (akhirnya ia jatuh).

(b) Yusuf lari dari godaan dosa (Kejadian 39:12)
Yusuf sadar bahwa ia bukan superman, maka ketka bjuk rayu istri Potifar sudah demikian hebat, ia lari meninggalkannya. Kadang-kadang untuk menghindari dosa kita harus berani lari dari stuasi yang memojokkan!
Contoh: kalau kita kerja di kantor yang curang dan korup, maka jalan keluar terbaik barangkali pindah kerja!

4. Menghadapi tuduhan palsu (Kejadian 39:12-15)


Istri Potifar berang terhadap Yusuf, lalu ia membuat tuduhan palsu bahwa Yusuf mau memperkosanya. Akhirnya Yusuf dimasukan ke dalam penjara. Bagaimana Yusuf merespon masalah ini?

(a) Ia tetap tegar
Sebenarnya sulit tetap tegar ketika seseorang dibatasi kebebasannya (dipenjara).
Bandingkan: banyak koruptor yang tiba-tiba "sakit keras" setelah dinyatakan polisi sebagai terdakwa! Tapi Yusuf memang luar biasa, ia tetap tegar dan tidak menjadi sakit di dalam penjara! Ini menunjukkan bahwa Yusuf memiliki ketahanan mental yang luar biasa!

(b) Ia tidak menjadi pahit hati
Sebenarnya ada alasan kuat bagi Yusuf untuk pahit hati, terutama kepada Tuhan. Ia sudah berusaha keras menjaga kekudusan, eh.. malah masuk penjara! Tapi Yusuf memilih untuk tidak pahit hati. Ia malahan lebih berserah pada Tuhan. Ia tahu tidak ada peristiwa yang terjadi dalam hidupnya tanpa ada rencana Tuhan yang indah di dalamnya!

5. Menghadapi tidak adanya rasa terima kasih (Kejadian 40:4)


Di penjara, Yusuf berbuat kebaikkan dengan cara berhasi menafsirkan mimpi juru minuman dan makanan raja. Dan akhirnya si juru minuman dibebaskan. Namun sayang, setelah keluar penjara, juru minuman raja melupakannya! Lalu bagaimana Yusuf merespon situasi ini ? Sebenarnya ada 2 pilihan yang bisa diambil Yusuf:

(a) Ngambek dan berhenti berbuat baik
Yusuf bisa berpikir buat apa berbuat baik kalau hanya untuk dilupakan dan tidak diberi terima kasih.

(b) Terus berbuat baik
Ternyata ini yang dipilih Yusuf. Sekalipun dilupakan orang ia tetap terus berbuat baik di penjara. Ia menjadi tawanan teladan. Ia tetap suka menolong orang, entah diberi terimakasih atau tidak! Terbukti ketika dimintai tolong menafsirkan mimpi Firaun ia tetap mau melakukannya.

6. Menghadapi kekuasan dan tanggung jawab (Kejadian 41:37-45)


Akhirnya Tuhan melepaskan Yusuf dari penjara, setelah ia berhasil menafsirkan mimpi Firaun. Lalu Yusuf malah dianugerahi kedudukan tinggi di istana Firaun.Menurut seorang penafsir yang diterima Yusuf meliputi:

(1) Yusuf menjadi orang ke dua setelah Firaun (setara dengan perdana mentri)

(2) Ia diberi wewenang untuk mengurusi semua milik Firaun termasuk kekayaan, istana, bahkan kekuasaan Firaun.

(3) Ia diberi Gelar kebangsawanan

(4) Ia diberi kedudukan yang sangat terhormat

(5) Ia diberi/dihadiahi istri oleh Firaun.

Bagaimana Yusuf merespon hal ini ? Kekuasaan bukan hanya anugerah tetapi juga tanggung jawab.

(a) Yusuf melakukan pekerjaannya dengan baik bertanggung jawab (Kejadian 41:46-57)
Yusuf bekerja secara excellent. Tugas yang dia emban untuk mengatur Mesir dan menghindarkan Mesir dari bahaya kelaparan berhasil ia laksanakan dengan sempurna!

(b) Yusuf tetap rendah hati
Yusuf tidak takabur dan menjadi besar kepala. Sekalipun kedudukannya sangat tinggi, ia tetap memiliki jiwa hamba, sebagaimana ia tunjukan ketika mengurusi rumah Potifar.
Jadi rupanya Tuhan mempersiapkan Yusuf untuk mengurusi Mesir dengan jalan menjadikannya pengurus rumah Potifar! Ketika kita rendah hati, maka Tuhan akan memberi promosi!

7. Menghadapi kenangan buruk masa lalu (Kejadian 51:50-52)

Yusuf telah menjadi sosok yang terbuang dan disia-siakan oleh kakak-kakaknya. Kini setelah memiliki kekuasaan, ia punya kesempatan untuk membalas dendam.

Bagaimana respon Yusuf dalam hal ini? Ada 2 pilihan yang bisa diambil Yusuf?


(a) Dia memelihara dendam dan membalas dendam
Yusuf bisa menuruti emosinya dan kemudian melampiaskan dendam itu secara total. Ia bisa berprinsip, mata-ganti mata, gigi ganti gigi agar impas.

(b) Dia tidak mendendam dan tidak membalas dendam
Ternyata pilihan ke dua ini yang diambil Yusuf. Ia memilih untuk menyisihkan dendam dan menggantinya dengan pengampunan. Hanya orang yang berjiwa besar yang bisa melakukan hal ini.

MASALAH_MASALAH DAN SOLUSI
http://www.sarapanpagi.org/6-masalah-masalah-emosional-vt1874.html


Streaming




Listen via Iphone & Blackberry



Widget By: Elson Sinurat
Mintalah kepada Tuan yang Empunya Tuaian
Matius 9:36-38


Judul khotbah hari ini diambil dari naskah Alkitab. Namun karena keterbatasan waktu, khotbah saya hari ini bukanlah khotbah sebagaimana biasanya, yaitu bukan merupakan uraian rinci dari isi Alkitab. Dengan waktu yang terbatas ini, saya hanya dapat sekadar menyajikan beberapa kesaksian berdasarkan ayat-ayat ini. 

Ada sangat banyak jiwa yang siap dituai

Kita akan membaca dua ayat di dalam Matius 9:37-38
Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu."
Nah, ini adalah suatu pernyataan yang sangat sederhana dan mudah untuk diingat. Jika Anda meneruskan pembacaan ke Matius pasal 10, Anda akan menemukan bahwa Yesus mengutus para rasul-Nya untuk memberitakan Injil. Ayat-ayat yang sejajar ada di Lukas 10:2. Ayat-ayat yang mirip dengan ini ada di dalam Yohanes 4:35, di mana Yesus memberitakan Injil kepada orang-orang Samaria.
Tuaian memang banyak. Suatu panenan yang sangat melimpah tetapi sedikit sekali pekerjanya. Apakah arti tuaian? Tuaian adalah jiwa-jiwa. Banyak sekali orang yang menunggu untuk dibawa masuk ke dalam hidup yang kekal. Apa yang akan terjadi jika tuaian tidak dibawa masuk? Tahukah Anda apa yang akan terjadi? Tuaian itu akan membusuk. Tuaian tidak boleh dibiarkan begitu saja di masa panen karena binatang-binatang akan merusaknya, burung-burung akan memakannya dan hujan akan membuatnya membusuk.

Sudahkah Anda meminta agar Dia mengirimkan lebih banyak lagi pekerja?

Jika tuaian sangat banyak dan pekerjanya sangat sedikit, apakah yang akan terjadi? Apa yang akan terjadi dengan para pekerja? Mereka akan bekerja siang dan malam. Mereka akan bekerja keras sampai kelelahan akan tetapi tetap saja mereka tidak dapat membawa masuk tuaian itu. Lalu bagaimana pekerjaan ini dapat diselesaikan? Yesus berkata, "Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu."
Kepada siapakah Dia berbicara? Dia berbicara kepada murid-murid-Nya. Apakah Anda ini murid-Nya? Apakah Dia berbicara kepada Anda? Apakah Anda berdoa agar Tuhan mengirimkan pekerja? Jika Anda prihatin agar ada yang mau memanen tuaian, mungkin Anda perlu mempertimbangkan bahwa bisa jadi Andalah yang seharusnya pergi. Bagi kami yang sedang bekerja di ladang, saya rasa kami sudah jemu dengan alasan yang kedengarannya alim, "Kami sedang menunggu; suatu hari ketika Tuhan menggerakkan kami." Nah, tentu saja kita memang perlu menunggu arahan Tuhan. Hal ini memang harus. Akan tetapi Tuhan sudah mengatakan satu hal: Berdoalah agar lebih banyak lagi pekerja dikirim. Perlu diperhatikan bahwa bukan kita yang mengirimkan pekerja. Tetapi kitalah yang meminta agar Dia mengirimkan pekerja 
Apakah kita sudah siap untuk berangkat? Saya sering bertanya-tanya apakah orang-orang yang hidup di negara yang nyaman seperti Kanada dapat menjadi laskar Kristen yang tangguh. Jika Anda cukup lama tinggal di negara-negara yang nyaman seperti Kanada dan Australia, saya tidak tahu apakah Anda dapat bertahan saat harus bertarung di medan. Jika hidup Anda cukup nyaman, apakah Anda bersedia untuk bekerja sebagai penuai di ladang?
Tuaian ini tidak membuat kita kaya
Jika Anda seorang pengusaha, bagaimana Anda akan berpikir? Tuaiannya banyak, dan pekerjanya sedikit, maka Anda tentu akan berkata, "Hebat! Lebih baik pekerjanya sedikit karena nanti semua hasil panen akan menjadi milikku. Kalau pekerjanya sedikit, maka kita dapat menguasai semua hasil panen. Makin sedikit makin baik! Aku menguasai hasil panen! Kalau terlalu banyak pekerja, akan ada banyak persaingan. Karena tuaiannya sangat banyak dan pekerjanya sangat sedikit, aku bisa memonopoli hasil panen."
Dalam hukum ekonomi, kalau pasarannya besar dan hasil yang dapat dituai itu sangat besar, pasti banyak sekali orang yang akan bermain di situ. Lalu mengapa ternyata pekerjanya sedikit? Apa masalahnya di sini? Nah, yang jelas adalah hasil panen yang satu ini tidak akan mendatangkan kekayaan yang besar. Jika tuaian ini memberi kekayaan besar, Anda tidak perlu meminta Tuhan untuk mengirimkan pekerja. Semua orang akan berebutan, seperti berlomba menggali tambang emas di masa Gold Coast (pencarian tambang emas di pantai barat Amerika). Jadi jelaslah bahwa tuaian ini bukan urusan yang dapat menghasilkan uang.
Pekerjaan sangat besar dikerjakan oleh satuan kerja yang sangat kecil
Ada juga faktor lain yang muncul dari ayat ini. Jika tuaian sangat banyak dan pekerjanya sangat sedikit, maka situasi ini sama dengan saat Daud melawan Goliat. Artinya kita tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk menangani tuaian. Ini berarti satuan kerja yang ada ini sangat lemah dan sangat kecil. Ini juga berarti bahwa kita harus mendapatkan kekuatan di dalam kedudukan yang sangat lemah. Jadi pernyataan dari Tuhan ini menyampaikan kepada kita bahwa tuaian yang sangat banyak ini harus dibawa masuk oleh pekerja yang sangat sedikit itu. Suatu tugas besar yang harus diselesaikan oleh satuan kerja yang sangat sedikit.
Beberapa tahun yang lalu, saya mendapat penglihatan di saat kebaktian hari Minggu seperti ini. (Saya sudah pernah mensharingkan ini). Ketika seorang rekan kerja sedang berkhotbah, tiba-tiba muncul penglihatan di depan saya. Dan penglihatan itu adalah tentang sebuah negeri yang masih belum mengenal Tuhan. Saya melihat seluruh negeri itu terbentang di hadapan saya. Dan saya menatap dari selatan ke utara. Sepertinya saya sedang berada di selatan dan menatap ke arah utara, ke segenap daratan negeri itu. Dan seluruh tempat itu seperti dinaungi cahaya keemasan. Dan hati saya berseru dan berkata, "Tuhan, di manakah rekan-rekan kerja yang akan membawa Injil ke tempat ini?" Dan saya memohon kepada Tuhan untuk mendapatkan pekerja untuk negeri ini, karena sebagian besar rekan kerja yang ada mempunyai kendala bahasa. Saya merenungkan tentang apa arti cahaya keemasan itu? Tampaknya seperti sebuah pesan, sekaranglah kesempatannya untuk membawa terang keselamatan dari Allah. Allah sudah menyatakan terang-Nya. Inilah zaman keselamatan buat negeri ini.
Akan tetapi di manakah para pekerjanya? Ya, kita mungkin sudah punya sedikit rekan kerja di sana. Akan tetapi jika kita tidak mengerahkan segenap jemaat kita, lalu bagaimana tuaian sebesar ini akan dibawa masuk jika kedatangan Tuhan sudah sedemikian dekatnya? Bahkan dengan pengerahan penuh pun tampaknya jumlah pekerja yang ada akan tetap sangat sedikit. Namun ketika saya mengamati gereja-gereja kita, apakah yang terlihat oleh saya? Yang saya lihat adalah orang-orang yang sangat terikat dengan kepentingannya masing-masing, dengan kebutuhannya, persoalannya, prospek, karir dan masa depannya. Ada beberapa yang masih bergumul dengan masalah rohani yang telah berlangsung sejak lima tahun yang lalu, dan mereka masih saja berputar-putar dalam jalur melingkar di tengah padang gurun. Tak ada visi tentang tuaian yang ada di depan kita.
Omong-omong, pengalaman mendapatkan penglihatan di tengah kebaktian adalah sesuatu hal yang unik bagi saya. Saya belum pernah mendapatkan pengalaman seperti itu sebelumnya. Bahkan, sebelum itu, saya malah tidak mengetahui secara pasti apa itu penglihatan menurut pengertiannya yang alkitabiah, sampai akhirnya hal itu terjadi pada saya.
Nah mengapa ada orang yang mau masuk ke dalam pekerjaan semacam ini? Tim pelatihan telah menjalani kerja praktek mereka di negeri itu. Di dalam perjalanan menuju ke sini, saya mendengarkan laporan tentang perjalanan mereka dari pita rekaman. Beberapa orang dari mereka berbicara tentang bagaimana mereka harus tidur di kasur bersama kutu besar, sampai mereka harus berdoa agar Tuhan melindungi mereka dari kutu-kutu itu. Ada satu saudara yang bersaksi bahwa dia kesulitan tidur karena kutu-kutu itu terus saja menggigitinya. Lalu dia berpikir, "Apa yang harus kulakukan? Baiklah, aku akan meminta Tuhan untuk mengusir kutu-kutu ini dari kasur." Masalahnya, di kamar itu ada tiga rekannya yang sedang tidur juga. Lalu dia berpikir, "Kalau aku meminta Tuhan untuk mengusir kutu-kutu ini dari kasurku, mungkin mereka akan pergi ke kasur rekan-rekan yang lain dan mengigiti mereka." Akhirnya dia berkata, "Tapi Tuhan, Engkau harus melakukan sesuatu, kalau tidak, maka aku tidak akan dapat tidur di sepanjang malam ini. Tuhan, Hentikanlah gigitan kutu-kutu ini. Mereka boleh tinggal di kasur tetapi jangan biarkan mereka mengigitku." Ajaib, kutu-kutu itu berhenti menggigitnya! Dia dapat tidur malam itu dan para kutu tidak menggigitnya lagi. Jadi, dia mengalami Tuhan secara sangat nyata. Nah, bersediakah Anda untuk membawa masuk tuaian dengan resiko menjadi makanan kutu?
Satu saudara dari Kanada bersaksi bahwa dia sedang di kereta dalam perjalanan misi menuju ke suatu kota. Dia tidak mendapat tempat duduk karena tiket yang dibelinya adalah tiket berdiri. Gerbong itu penuh sesak dan ia harus berdiri selama empat jam sepanjang perjalanan itu. Akan tetapi berdiri bukanlah masalah besar. Dia berkata bahwa lantai gerbong kereta itu sangat jorok sehingga terasa memualkan. Berbagai macam sampah mengambang di genangan air. Dan karena mereka bepergian dengan ransel punggung dengan tiket berdiri, itu berarti bahwa mereka tidak bisa menaruh ransel mereka di lantai kereta yang jorok itu. Jadi selama empat jam mereka harus berdiri dengan ransel di punggung. Dapatkah Anda akan menjadi prajurit yang baik bagi Tuhan? Sanggupkah Anda berangkat memanen di tengah terpaan udara panas dan kesulitan?
Rekan kerja yang lain berkata bahwa mereka harus menginap di sebuah penginapan kecil. Ketika mereka masuk ke kamar mandi, mereka hampir terjatuh ke dalam kakus, karena kakus itu hanya berupa sebuah lubang di lantai. Kamar mandinya sangat gelap sehingga mereka tidak bisa melihat apa-apa. Dan mereka harus mandi di tempat seperti itu. Pancurannya terbuat dari pipa yang disambungkan dengan keran. Itu adalah suatu pengalaman yang sangat bagus untuk melihat apakah tim ini akan menjadi penuai yang baik untuk memanen tuian yang tersedia.

Kasih Yesuslah yang mendorong para pekerja untuk menuai

Lalu apa yang memotivasi mereka? Hal apakah yang memotivasi rekan-rekan kerja kita yang sedang berada di ladang misi? Sebagai contoh, banyak dari mereka yang mengajar di sekolah tinggi atau universitas, dan gaji mereka sangat tidak masuk di akal bagi standar Kanada! Mereka menerima sekitar 100 dolar Kanada. Nah, tentunya tidak ada orang dengan latar belakang pendidikan seperti mereka yang mau bekerja dengan gaji $100 di Kanada. Anda bisa memperoleh lebih dari itu hanya dengan bekerja selama beberapa hari di restoran cepat saji McDonald''.
Lalu apa yang membuat mereka bertahan di sana? Seperti yang dikatakan oleh rasul Paulus, hanya ada satu hal yang bisa mendorong kita untuk melakukan penuaian ini. Yaitu kasih Kristus. Seperti yang dikatakan oleh Paulus di dalam 2 Korintus 5:14, Sebab kasih Kristus yang menguasai kami. 
Apakah Anda mengalami kasih Kristus ini?
Ketika saya sedang berada di Meksiko beberapa tahun yang lalu, saya menyaksikan pekerjaan seorang pengrajin. Pekerjaannya adalah menggarap batangan kaca, dan dia menggunakan penyembur api bersuhu sangat tinggi agar bisa mencairkan dan membentuk batang-batang kaca itu. Saya berdiri di sana menyaksikan pengrajin membuat salib, dan di atas salib itu dia membentuk tubuh Yesus yang disalibkan. Keterampilannya sangat luar biasa! Saya sangat terpesona sehingga saya agak lama berdiri di sana. Dan patung Kristus tersebut sangatlah menakjubkan walaupun ukurannya kecil, hanya setinggi sekitar satu kaki! Dia membuat mahkota duri dengan sekali sentuhan! Dengan bahan kaca, gerakannya harus tepat dan sempurna. Ia dapat dengan mahir membentuk mata dan mulut yang mengungkapkan seluruh ekspresi penderitaan - sungguh menakjubkan! Proporsi dari seluruh tubuh juga sempurna! Tangan yang terentang di kayu salib. Setiap jarinya sempurna dan ada paku di tengah-tengahnya. Terlihat bentuk tulang rusuk di tubuh-Nya, rusuk demi rusuk, sampai dengan detail paku di kaki-Nya. Istri saya, Helen dan saya berdiri bersama, terpesona oleh keahliannya.  Dalam sekedip mata saya diperlihatkan dengan Yesus yang baru disalibkan. Seluruh gambarannya menjadi sejelas kristal di patung kaca itu. Dan saya teringat tentang ucapan Paulus mengenai Yesus, Anak Allah yang mengasihiku dan memberi diri-Nya untukku. Apakah kasih Kristus telah menjamah kita?

Bagaimana mengalami kasih Kristus dan realitas Allah?

(1) Melalui kasih saudara seiman
Saya akan menutup dengan berbagai kesaksian singkat tentang kuasa kasih Kristus ini. Bagaimana kita dapat mengalaminya? Jika kita tidak mengalaminya, lalu apa yang akan mendorong kita keluar menuai, siap untuk digigit oleh kutu, dan hidup jauh dari kenyamanan yang biasa kita alami? Tentu saja, salah satu jalan mengalami kasih Kristus adalah melalui kasih yang ditunjukkan oleh para saudara seiman.
Ketika saya berada di Australia, saya sangat tersentuh oleh kasih para saudara seiman di sana. Mereka adalah saluran kasih-Nya kepada saya. Sebagai contoh, pada suatu kebaktian, seorang saudara, yang bekerja sebagai dokter, sangat prihatin dengan sakit punggung saya. Tanpa sepengetahuan saya, dia mempelajari kondisi saya selama kebaktian. Ia menemukan bahwa sepatu yang saya kenakan tidak cocok untuk kondisi punggung saya. Lalu beberapa hari kemudian, saya menerima sebuah kotak berisi sepasang sepatu. Tidak ada nama pengirimnya. Si pengirim tidak ingin diketahui jati dirinya. Akan tetapi seseorang yang kelepasan bicara tentang jati diri si pengirim membuat saya tahu siapa pengirim sepatu ini. Dokter ini melihat bahwa saya mengenakan sepatu kulit dengan hak kulit yang solnya tidak meredam hentakan langkah dan itu tidak bagus bagi punggung. Jadi dia segera pergi membeli sepatu dengan sol khusus yang cocok untuk keadaan fisik saya. Sepatu ini buatan Itali yang harganya tidak murah. Hal ini menyentuh hati saya bukan karena nilai barangnya tetapi kepedulian dan kasihnya terhadap saya. Inilah satu contoh bagaimana Allah memakai saudara seiman kita untuk menyalurkan kasihnya.
Ada keluarga lain yang memberikan saya sebotol obat Ginseng yang telah mereka simpan selama lebih dari dua belas tahun. Ini adalah barang yang sangat berharga bagi keluarga mereka dan mereka ingin agar saya mengkonsumsinya. Mereka merawat saya seperti saya anggota keluarga mereka sendiri. Saya yakin bahwa Anda juga telah mengalami kasih dari saudara seiman mirip seperti yang telah saya alami. Kasih semacam ini memberi kesegaran dan kekuatan.
Sebagai contoh, jika saya di Hong Kong, seorang bibi selalu memasak sup buat saya. Saya pastilah orang yang paling banyak disuguhi sup di dunia ini. Ketika pertama kali saya mengalami sakit di punggung, ada bibi yang lain yang memasak sup ikan setiap hari buat saya! Selama tiga minggu, setiap hari saya menikmati sup ikan yang lezat ini. Anda bisa bayangkan betapa sangat terawatnya saya ketika itu. Dan belakangan saya menyadari bahwa khasiatnya bukanlah isapan jempol belaka. Tampaknya, ada semacam kandungan di dalam sup itu yang benar-benar membantu memulihkan kondisi punggung saya. Mungkin itu sebabnya mengapa saya bisa pulih kembali saat itu.
Dan sekarang ini, jika kami kembali ke sini, dan hal yang sama akan terjadi. Setiap akhir pekan saya akan mendapatkan sup. Percuma kita berkata kepada bibi itu, "Tidak usah memasak sup atau sayuran lagi buat saya." Bibi itu akan terus mengungkapkan kasihnya dengan melimpahi kami dengan makanan setiap minggu. Demikianlah kasih Kristus disalurkan kepada kita melalui saudara-saudara seiman kita.
(2) Secara langsung oleh Tuhan sendiri
Tetapi kadang kala, Tuhan merawat kita di dalam kebutuhan kita dengan cara yang langsung. Sebagai contoh, sebelum saya meninggalkan Hong Kong, saya ingin memberikan satu lagi sesi pelatihan kepada tim pelatihan. Saya sudah mengatur agar pelatihan tetap berjalan tanpa kehadiran saya, setidaknya sampai bulan Januari atau Februari, namun saya ingin memimpin satu sesi terakhir untuk bersekutu bersama dengan tim. Akan tetapi saya sudah sangat kelelahan. Allah tahu bahwa saya akan memaksa diri untuk tetap mengajar sekalipun kondisi saya tidak memungkinkan. Demikianlah, Tuhan tahu tentang diri kita, melebihi apa yang kita sendiri ketahui, dan Dia menghentikan saya. Seperti yang kita baca di Kisah Para Rasul, rasul Paulus ingin pergi ke satu jurusan dan Tuhan menghentikannya. Ketika dia ingin pergi ke jurusan yang lain, Tuhan kembali menghentikannya. Saya tidak tahu bagaimana Tuhan menghentikan Paulus dalam dua kejadian itu. Kitab itu tidak menjelaskannya.
Di hari Rabu itu, saya tidur awal untuk menyiapkan diri mengajar di sesi yang saya rencanakan di hari berikutnya. Dan di saat saya tidur, listrik padam. Padamnya listrik mungkin tidak menjadi masalah besar di tempat yang dingin seperti di sini, akan tetapi di Hong Kong yang temperaturnya sekitar 30 derajat Celsius, atau sekitar 90 derajat Fahrenheit, adalah cerita yang jauh berbeda. Saya terbangun dalam keadaan basah kuyup. Keringat membanjiri tubuh saya dan saya berpikir, "Ada yang sedang terjadi?" Lalu saya menyadari bahwa listriknya padam. Saya tidak lagi dapat tidur. Segera saja tempat tidur saya basah oleh keringat. Saya sudah sangat kelelahan karena kurang tidur dan saya membatin, "Bagaimana saya bisa mengajar nanti?" Sebelumnya, listrik di daerah saya tidak pernah padam. Baru belakangan saya mengetahui bahwa padamnya listrik itu terjadi karena perusahaan yang sedang membangun lapangan terbang baru itu secara tidak sengaja telah memotong kabel listrik. Akibatnya saya begitu kelelahan. Tidak mungkin saya bisa mengajar pada keesokan harinya.
Segera saja saya telepon Pastor Joe agar dia bisa mengisi sesi pengajaran tersebut dan dia tidak keberatan. Jika Tuhan tidak menghentikan saya pada hari itu, saya rasa saya bisa jatuh pingsan di tempat itu karena pada keesokan harinya, kondisi saya malah semakin memburuk. Jika Anda belum pernah mengalami kelelahan seperti ini, memang sulit untuk menjelaskannya. Saya bekerja setiap hari selama empat minggu tanpa ada hari istirahat. Setiap hari, berhubungan dengan orang-orang dari pagi sampai malam - lewat telepon dan sebagainya. Tanpa henti. Sekalipun Anda bertubuh kuat, tetap saja mustahil untuk menjalani jadwal kerja yang sedemikian padat. Jadi, di hari berikutnya, saya menjadi semakin lemah. Dan saya merasa sangat tidak sehat.
Pada saat itu, Helen sedang berada di New Zealand menunggui ibunya, jadi saya sendirian. Karena kelelahan saya juga tidak mempunyai nafsu makan. Dan itu membuat saya menjadi semakin lemah. Helen dan saya telah sepakat untuk bertelepon pada pukul 8 malam itu, dan di dalam kelemahan saya, saya berseru kepada Tuhan, "Tuhan, saya harus kembali ke Kanada tetapi saya tak punya kekuatan bahkan untuk naik ke pesawat. Saya tidak tahu bagaimana akan menjalani beberapa hari ke depan, apalagi untuk pulang ke Kanada." Tuaian sangat banyak, tetapi pekerjanya sangat sedikit, dan sangat kelelahan.
Pada saat itu, saya membuka Mazmur 27 dan mulai membaca. Sebenarnya, saya asal buka saja dan Alkitab pas terbuka di Mazmur 27. Di sana disebutkan, "TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku" (Benteng hidupku/my stronghold bisa bermakna kekuatanku/my strength). Itulah kata-kata yang menghunjam hati saya: TUHAN adalah benteng hidupku. Saya berlutut dan berdoa, berseru kepada Tuhan karena masih banyaknya pekerjaan dan saya tidak sanggup melanjutkan.
Sekitar pukul delapan kurang seperempat, saya beranjak ke ruang depan untuk menunggu telepon dari Helen. Dan saya berlutut lagi di hadapan Tuhan dengan menghadap ke arah jendela dan berdoa membaca mazmur yang berikutnya. Mazmur pasal 28 berkata, "Dengarkanlah suara permohonanku, apabila aku berteriak kepada-Mu minta tolong, dan mengangkat tanganku ke arah tempat-Mu yang maha kudus." Saya berkata kepada Tuhan, "Jika Engkau tidak menjawabku, aku akan sama dengan mereka yang jatuh ke dalam lubang, aku bisa mati." Dan juga sempat terlintas dalam benak saya bahwa akan sangat membantu jika Helen bisa kembali karena saya tidak punya kekuatan lagi untuk merawat diri saya. Akan tetapi saya tidak memberitahukan keadaan saya kepada satupun rekan kerja karena takut bahwa mereka akan menjadi sangat khawatir. Demikianlah saya berlutut dalam doa pada pukul delapan kurang seperempat. Saya berdoa memohon agar Tuhan menjawab saya seseuai dengan isi Mazmur pasal 28.
Dan tiba-tiba saja, angin bertiup dengan kencang. Hembusan angin itu sangat kuat dan terjadi secara mendadak. Seperti dilanda topan yang sangat mendadak, bukan hembusan angin yang lembut. Angin itu bertiup masuk dan saya bisa mendengar suara hembusannya lewat bawah pintu, lewat jendela dan dari setiap penjuru. Anda harus berada di sana untuk mengetahui langsung keajaibannya. Lalu kata-kata di dalam Kisah Para Rasul terngiang kembali di benak saya, "ketika Roh Kudus turun, terdengarlah suara tiupan angin yang sangat kencang." Seolah-oleh Tuhan sedang berkata, "Kau memanggil-Ku untuk menjawab. Aku akan menjawabmu sekarang juga." Dan itu suatu jawaban yang sangat hebat!
Ini bukanlah kali pertama saya mendengar suara tiupan angin yang kencang. Bertahun-tahun yang lalu, ketika kami sedang memulai acara penumpangan tangan untuk pada rekan kerja, hal itu juga terjadi. Pada peristiwa itu, saya jelas mendengar suara tiupan angin dan saya mencoba melihat ke arah luar melalui jendela untuk melihat apakah ada badai di luar. Kejadiannya di Toronto. Gereja itu memakai jendela kaca yang berhias sehingga saya tidak bisa melihat ke luar. Saya bertanya pada jemaat di sana apakah mereka mendengar suara angin itu. Ada yang mendengar tetapi ada juga yang tidak mendengarnya. Suara tiupan angin pada acara tersebut sangatlah berarti bagi saya karena Tuhan menegaskan bahwa Dia menyetujui penumpangan tangan itu, bukan hanya kepada mereka yang menerima urapan itu melainkan juga bagi pengurapan-pengurapan di masa mendatang. Jika Tuhan tidak menyetujui apa yang kita kerjakan, maka semua itu akan sia-sia saja. Akan tetapi pada kejadian di acara tersebut saya tidak begitu yakin tentang apa yang sedang berlangsung, apakah angin kencang memang bertiup di luar atau beberapa orang dari kami sedang mendengar suara 'angin rohani'. Saya adalah orang yang sangat realistis. Saya ingin memeriksa semua bukti.
Demikianlah, Tuhan menjawab doa saya selama sekitar dua atau tiga menit saat saya berlutut. Hembusan angin itu datang dengan kekuatan yang luar biasa. Pintu kamar mandi agak terbuka dan jendela juga sedikit terbuka. Sedemikian hebatnya kekuatan angin tersebut sehingga pintu kamar mandi terbanting keras dengan suara yang membuat saya terlompat kaget. Saya menyadari bahwa ini benar-benar angin yang sangat kencang. Ini bukan sekadar khayalan. Akan tetapi ketika saya menatap ke arah luar jendela, saya tidak melihat adanya tanda-tanda pergerakan di sana. Saya heran mengapa keadaan di luar sangat tenang. Langit cerah. Tak ada awan badai. Tidak ada hujan. Lalu mengapa ada angin kencang? Jika dinalar secara ilmiah saya tidak mengerti mengapa ada tiupan angin kencang. Saat itu saya bangkit untuk memeriksa apakah angin itu nyata. Saya membuka jendela dan angin itu meniup langsung ke wajah saya. "Wah! Ini betul-betul angin yang kencang!" Saya benar-benar diyakinkan bahwa ini benar-benar perbuatan Tuhan. Saya kembali dan berlutut di hadapan Tuhan untuk berterima kasih kepada-Nya. Sepuluh menit kemudian, suasananya tenang sekali. Tak ada tiupan, tak ada pergerakan, sangat-sangat hening. Seolah-olah Tuhan berkata, "Engkau memanggil-Ku untuk menjawabmu. Inilah jawaban-Ku. Inilah kuasa-Ku di dalam kelemahanmu." Kita mengalami kasih yang langsung dari Tuhan kepada kita. Seperti yang sering dikatakan oleh pemazmur, "Aku berseru kepada Tuhan, Dia mendengar seruanku dan menjawabku." Saya lanjutkan menyembah di hadapan Tuhan, memuji Dia dan berpikir, "Tuhan, aku begitu lemah tetapi Engkau begitu kuat."
Lalu telepon berdering, Helen menelepon dari New Zealand, dari kediaman ibunya. Rencana awalnya Helen setidaknya akan menemani ibunya selama 3 minggu lagi. Lalu ketika saya mengangkat telepon, hal pertama yang dia katakan kepada saya adalah, "Aku punya kejutan buatmu!" Saya pikir, kejutan? Kejutan apa? Saya sendiri baru saja menerima kejutan. Malahan, saya begitu terpesona pada pengungkapan kuasa Tuhan yang baru terjadi sehingga saya tak dapat berkata-kata. Setelah mengucapkan setakat, "Halo," saya tidak bisa berkata-kata lagi. Lalu dia melanjutkan, "Aku akan kembali dalam dua hari." "Mengapa?" Saya kaget karena saya tidak pernah memberitahunya tentang kondisi saya.
Ternyata, dia telah berusaha untuk menghubungi saya sejak malam sebelumnya, tetapi telepon saya selalu sibuk dari siang sampai malam sehingga dia tidak bisa menghubungi saya. Akhirnya dia tidak melanjutkan usahanya dan beralih menghubungi seorang rekan kerja. Dan rekan kerja ini menyebutkan bahwa saya kelelahan sehingga tidak bisa memimpin sesi pengajaran seperti yang telah dijadwalkan. Tampaknya hanya itu informasi yang dia dapatkan. Dan itu adalah satu sinyal yang kuat baginya, dan Tuhan tampaknya menggunakan keterangan itu untuk berbicara kepadanya bahwa saya pasti dalam keadaan yang agak serius. Karena dia tahu watak saya, sekalipun saya kelelahan, dan sekalipun saya agak sakit, saya tetap akan memaksa diri untuk mengajar. Karena tahu watak saya, maka dia segera tahu bahwa ada yang tidak beres jika saya sampai tidak bisa mengisi sesi pengajaran tersebut. Lalu ibunya dengan penuh belas kasih berkata, "Sebaiknya kamu berangkat segera. Tampaknya dia tidak sehat." Ajaibnya, dia berhasil memesan tempat di pesawat dan bisa kembali dalam dua hari.
Saat saya menaruh telepon, saya benar-benar terharu pada kasih Allah kepada saya sehingga saya menangis. Begitu cepatnya Tuhan menjawab doa saya. Pertama, Dia menguatkan saya dengan berkata, "Jangan khawatir. Engkau lemah, akan tetapi lihatlah kuat kuasaKu." Apa yang Tuhan kerjakan melampaui apa yang saya harapkan. Dia mengatur Helen akan kembali dalam dua hari karena Ia tahu kondisi saya sudah agak parah. Sungguh ajaib! Kasih Kristus diungkapkan tidak saja lewat kematian-Nya di kayu salib tetapi juga lewat kepedulian-Nya pada persoalan sehari-hari kita, khususnya jika Anda bertempur di garis depan peperangan-Nya. Mereka yang tinggal di kenyamanan rumahnya akan jarang mendapat kesempatan untuk mengalami apa yang bisa Tuhan lakukan. Apakah Allah itu nyata bagi Anda?
Ini bukanlah akhir dari kisahnya. Dalam kesempatan lain, saya bermaksud untuk membatalkan penerbangan saya ke Kanada karena kondisi fisik saya tidak memungkinkan saya menempuh perjalanan yang jauh itu, akan tetapi saya diberitahu bahwa hal itu tidak mungkin dilakukan. Jika saya membatalkan penerbangannya, maka tidak akan ada lagi tempat tersedia selama satu bulan ke depan. Saya harus menunggu paling cepat dua bulan lagi. Walaupun saya tahu saya juga harus pulang sebelum itu tetapi kondisi saya memang sudah begitu terpuruk sehingga saya tidak mempunyai pilihan melainkan terpaksa membatalkan penerbangan yang pertama. Saya diberitahu bahwa tidaklah mungkin saya akan dapat mendapatkan satu tiket pun, apa lagi dua tiket untuk saya dan Helen. Namun setelah kondisi saya sedikit membaik, ternyata Tuhan membuka jalan dan kami berhasil mendapatkan dua tempat duduk di waktu yang kami inginkan. Tuhan menyediakan apa yang kami butuhkan. Kami terus mengalami kasih kebaikan-Nya.
Demikianlah sedikit dari pengalaman saya bekerja di ladang Tuhan. Kasih dan penyertaan Tuhan akan selalu bersama kita. Apakah Anda siapa untuk berangkat untuk memanen tuaian? Apakah Anda mengalami kasih Kristus? Apakah Allah itu nyata bagi Anda?

Streaming




Listen via Iphone & Blackberry

Widget By: Elson Sinurat


Kasih Menembus Batas


Yohanes 17:21
“Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku”
Yesus mengatakan “supaya semua menjadi satu” tidak dalam pengertian Ia sedang mengupayakan sebuah keseragaman (uniform) tetapi sebuah kesatuan (unity), yang memang berangkat dari perbedaan-perbedaan. Fokus utama pembicaraan Yesus saat itu terarah kepada murid-murid-Nya yang datang dari berbagai orientasi, berbagai kemampuan, berbagai fokus hidup, berbagai jenis emosi yang berbeda-beda. Persatuan di antara mereka di zaman itu dan persatuan di antara gereja-gereja kita di zaman sekarang memang tidak akan pernah meniadakan perbedaan-perbedaan, namun yang perlu mendapat catatan bagi kita adalah bahwa perbedaan-perbedaan bukan alasan bagi mereka yang dulu pernah hidup dan kita yang hidup sekarang ini untuk tidak bersatu di zaman masing-masing. Perbedaan bukanlah kutuk bagi gereja tetapi sebenarnya adalah sebuah anugerah, tetapi sayangnya banyak gereja tidak tahu bagaimana menangani “anugerah Allah yang kaya ini” ini.
Batas-batas yang muncul sebagai akibat dari perbedaan-perbedaan itu adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari, namun jangan pula dilihat secara negatif sehingga dipergunakan secara keliru pula. Tidak sedikit dari gereja yang memandang batas-batas itu dengan negatif, akibatnya tidak sedikit gereja pula yang memandang perbedaan sebagai alat:
1. Untuk menarik diri (karena merasa tidak cocok);
2. Atau untuk mendominasi (karena merasa paling benar)

Di Belfast, Irlandia, seperti dituturkan Anthony de Mello, Imam Katolik, Pendeta Protestan, dan rabbi Yahudi terlibat dalam debat teologi yang sengit. Tiba-tiba malaikat Tuhan tampak di antara mereka dan berkata: “Tuhan menyampaikan berkat. Ajukanlah satu permohonan damai dan permohonan itu akan dikabulkan oleh Yang Mahakuasa.” Pendeta Protestan berkata: “Biarlah semua orang Katolik lenyap dari pulau Indah ini. Lalu damai akan berkuasa.” Imam berkata: “Jangan ada satu orang Protestan tinggal di bumi suci Irlandia ini. Ini akan mendatangkan damai kepada pulau ini.” “Dan bagaimana engkau rabbi?” kata malaikat, “Apa engkau tidak punya permohonan sendiri?” “Tidak,” kata rabbi. “Perhatikanlah permohonan dua tuan ini saja dan aku akan senang sekali!”

Berkaca pada kisah di atas, maka bila gereja berada dalam posisi-posisi semacam ini maka gereja sedang kehilangan Doa Yesus dalam diri mereka. Yang mempersatukan gereja-gereja adalah Kristus yang diwujudkan melalui kasih-Nya. Kasih itu menembus batas: tidak hanya dalam pengertian denominasi atau aliran gereja, tetapi juga dalam pengertian yang lebih luas yaitu batas suku, batas agama, strata pendidikan dan ekonomi. Jenis Kasih kita bukan kasih lokal dan terkotak-kotak. Dan hal yang perlu diingat pula bahwa ide kesatuan dan persatuan bukanlah ide sosial humanistik dari gereja tetapi itulah DOA YESUS BUAT GEREJANYA dan itulah misi horisontal yang perlu dibangun di antara gereja masa kini (di Indonesia ada 323 sinode gereja - Depag 2008). Penggenapan doa Tuhan Yesus itu bergantung pada kerinduan gereja-Nya untuk bersatu. Bersatu yang dimaksud di sini adalah: kita bergandengan tangan tanpa terhambat oleh batas-batas denominasi kita untuk mewujudkan panggilan gereja bagi dunia ini:

DIAKONIA (pelayanan kasih)
MARTURIA (kesaksian)
KOINONIA (persekutuan)

Persatuan yang ada tak hanya menggenapi doa Yesus tetapi juga membuat gereja semakin efektif dalam perjuangannya di dunia ini dan tidak tumpang tindih. Dunia membutuhkan gereja tidak dalam kapasitas berlindung di balik batas-batas tetapi dengan kasih yang dimiliki gereja, maka masing-masing mengatasi batas-batas tersebut guna memulihkan dunia.

Peristiwa Penebusan Kristus adalah peristiwa penyelamatan dunia oleh Dia bukan penyelamatan terhadap gereja tertentu. Sisi lain dari pengutusan Yesus adalah untuk menujukkan kesatuan di dalam gereja: “supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku”. Kasih Kristus begitu lebar, tinggi, dan luas sehingga tidak bisa dibatasi atau dikandangi dalam denominasi tertentu. Kasih-Nya meluap-luap dan mendesak pribadi-pribadi agar tidak tinggal dan tidur dalam “kandang denominasinya” tetapi keluar dan bergandengan tangan untuk mengatasi pergumulan-pergumulan dunia. Sudah saatnya kita saling memberkati "tubuh Kristus" yang adalah kita sendiri di antara kepelbagaian (unity in diversity).

Bila kasih Kristus sudah menembus batas, maka adakah kita mau diajak untuk berpikir dan bertindak mengatasi atau melewati batas-batas itu?

Senin, 16 April 2012


    MENCARI KERAJAAN ALLAH
 Kerajaan Allah bukan soal makanan dan  minuman, tetapi soal
a. Kebenaran
b. Kedamaian, dan
c. Sukacita oleh Roh Kudus

Kita tidak munafik bahwa kita sebagai manusia tentu sangat memerlukan yang namanya makanan dan minuman bahkan kebutuhan lain, dan Tuhan sangat mengetahui dan bukan hanya mengetahui akan tetapi sudah menyediakan bagi kita.

saya memahami begitu sulitnya keadaan akhir-akhir ini ...coba kita lihat jurang pemisah antara simiskin dan sikaya semakin lebar, akibatnya banyak perbuatan-perbuatan yang tidak berkenan di mata Tuhan. Si miskin bersusah payah mencari nafkah dan bahkan rela berbuat apa saja demi sesuap nasi...sementara si kaya semakin rakus untuk memperkaya diri sendiri.
Melihat hal diatas saya merasa terpanggil untuk mencari solusi dan yang saya tawarkan adalah solusi rohani. memang setiap memecahkan permasalahan selalu ada dua cara untuk mencari solusinya yaitu:
1. Mencari solusi dengan cara duniawi ( cara ini sering kalai mengalami kegagalan dan akhirnya tidak mendatangkan kedamaian)
2. Mencari solusi dengan cara Rohani( cara ini pasti mendatangkan kedamaian dan jalan terbaik)

Untuk keluar dari masa-masa sulit kita harus punya pegangan....perhatikan kalau ada jalan atau jembatan yang tinggi atau di mall-mall yang keberadaannya tinggi maka selalu ada dibuat sesuatu untuk pegangan. Demikian juga kita sebagai ciptaaan Tuhan yang paling tinggi dan bahkan kalau kita menganggap kita manusia berharga tentunya kita harus ada pengangan, pegangan yang saya maksud adalah Firman Tuhan....
Jikalau saat ini kita berada dalam berbagai permasalahan mungkin kita lupa akan Firman Tuhan...
"Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkannya kepadamu" mat 6:33.

mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya akan memberikan kita kedamaian dan sukacita...apabila damai dan sukacita sudah kita miliki maka yang lainnya akan di tambahkan.......

pertanyaannya....Apakah anda sudah memilikinya???

Minggu, 18 Maret 2012

"BERI DAN LAKUKAN YANG TERBAIK UNTUK TUHAN"

    Hari ini saya bersyukur kepada Tuhan karena hari ini saya merayakan hari ulang tahun, ini merupakan pemberian Tuhan yang terbaik bagi saya. hari ini kujadikan bahan renungan bagi hidupku dan mengajukan pertayaan untukku, yaitu : " Apa yang telah kulakukan untuk Tuhan?"(Pertanyaan ini kadang menjebak seperti ini: "seakan akan saya orang hebat dan seperti paling hebat dari Tuhan" bukan seperti itu maksudnya....akan tetapi maksudnya adalah => melakukan untuk Tuhan artinya melakukan bagi sesama manusia)

       Suatu ketika saya melihat anakku Queen yang saat itu masih berumur 1 tahun, dia  memegang sebuah Apel yang besar dengan kedua tangannya dan berusaha untuk mempertahankannya dan memakannya. Melihat hal itu saya sebagai bapanya yang mengasihinya berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk dia dan saya bermaksud mengambil appel itu dari tangannya dengan tujuan untuk mengupasnya dan memotong kecil-kecil sehingga anak saya bisa makan. Saya terkejut karena tidak menduga apa yang terjadi, pada saat saya minta apel tersebut dan mengambil dari tangannya, anak saya tidak memberikannya dan berusaha mempertahankannya bahkan dengan sangat geram karena tanganku menyentuh apelnya. Seketika saya merenungkan mungkin saya sama seperti dia, Tuhan adalah bapaku yang mengasihiku, mungkin Dia sering meminta sesuatu dari saya dengan maksud mau mengganti yang terbaik akan tetapi saya tidak memberikannya sehingga berkatnya tidak bisa melimpah.

Mari kita baca lagi dibawah ini :

       Ketika seseorang bekerja; baik di kilang, di ladang, di pejabat, di rumah atau di gereja: Seringkali merasa bersungut-sungut, lakukan kerja dengan cara ala kadar (asal siap / asal jadi) dan tidak melakukan pekerjaan atau tugas itu dengan sungguh-sungguh, sehingga tidak dapat menghasilkan yang 'Excellent'. Kenapa hal ini terjadi?

Excellent itu bererti "Memberi / melakukan sesuatu lebih dari yang diharapkan". Excellent itu lebih dari sekadar baik.

Kolose 3:23 mengatakan : "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu untuk Tuhan dan bukan untuk manusia".

Dari ayat ini ada 3 kebenaran penting tentang bagaimana kita dapat menghasilkan yang 'Excellent' dari apa yang kita lakukan atau kerjakan.

1. TUHAN MENGHARGAI 'APAPUN' YANG KITA LAKUKAN
      Firman Tuhan mengatakan, "Apapun yang kamu perbuat...". Tidak dibatasi dengan hal-hal yang menyenangkan, yang mudah dikerjakan atau yang berkaitan tentang pelayanan saja, tetapi "APAPUN" yaitu segala sesuatu yang kita lakukan. Ketika Anda menulis tesis, menyiapkan 'assignment', mengerjakan kerja-kerja di pejabat, mempersiapkan lagu-lagu yang akan dinyanyikan dalam pertemuan ibadah, mengurus anak, membasuh pinggan mangkuk atau membersihkan gereja, semuanya itu dihargai oleh Tuhan dan Dia rindu anak-anak-Nya melakukannya dengan 'Excellent'.

   Tuhan menghargai bukan saja pelayanan berkotbah, mengajar, membimbing, menasihati atau memimpin jemaat yang harus kita lakukan, tetapi mengurus keluarga juga Tuhan sangat hargai. Ingat: Tuhan menghargai 'Apapun' yang Anda kerjakan dan lakukan.

2. TUHAN MAU KITA MEMILIKI SIKAP "SEGENAP HATI"

        Masalah utama, kenapa ramai orang yang tidak dapat melakukan sesuatu dengan 'Excellent' ialah kerana apa yang dilakukan itu dilakukan bukan dengan sikap "Segenap hati". Segenap hati itu belum tentu dalam hal kepakaran(kemahiran) atau yang kita suka, tahu dan selalu lakukan. Segenap hati itu berkenaan dengan sikap. Wayne Cordiero menuliskan dalam bukunya, "Sikap Yang Menentukan Keberhasilan". Benar! Sikap sangat menentukan keberhasilan. Firman Tuhan juga mengatakan, "...perbuatlah dengan segenap hatimu...". Bererti sikaplah yang menentukan apakah kita mengerjakan sesuatu dengan 'Excellent'.

Tentu Anda ingat cerita klasik tentang perlumbaan di antara kelinci dan kura-kura yang akhirnya dimenangi oleh si kura-kura. Jika diteliti dengan baik, dari segi kepantasan berlari, kelinci lebih pantas dari kura-kura. Tetapi, kenapa dalam cerita ini, kura-kura yang memenangi perlombaan tersebut? Semuanya kerana "Sikap". Ketika kelinci berfikir kura-kura tidak mungkin dapat mengalahkan dia kerana kura-kura itu berjalan sangat perlahan, sikap itu yang terlebih dahulu menewaskan si arnab, bukan kerana kura-kura itu cepat berlari atau kerana kelinci tertidur (seperti dalam cerita dongeng kura-kura vs kelinci).

Ketika Anda bersikap, "Nantilah...baru saya kerjakan...tesis...kerja rumah...persiapan kotbah...persiapan pelayanan...bersiap-siap ke gereja...dan banyak lagi...", sikap itulah yang membuat semua yang Anda lakukan menghasilkan yang tidak 'Excellent".

Tuhan meminta Anda berubah dari sikap "Saya tidak boleh atau saya boleh" kepada "Dengan segenap hati" walaupun Anda tidak mahir melakukannya atau sudah selalu melakukannya. Jika Anda melakukan sesuatu dengan segenap hati, pasti Anda tidak akan membuang atau menangguh masa untuk mengerjakan apa yang patut Anda kerjakan. Jika Anda memiliki sikap "segenap hati", Anda pasti mahu melakukan sesuatu dengan cara yang terbaik, walaupun itu bukan bidang kepakaran atau Anda tidak biasa melakukan pekerjaan itu. Mulailah dari SEKARANG! Praktikkan "Dengan segenap hati".

3. SEGALA SESUATU ADALAH UNTUK TUHAN

          Paulus menuliskan dalam ayat ini, "...untuk Tuhan dan bukan untuk manusia". Kita seringkali berfikir atau menuntut, apa yang kita akan dapatkan jika kita lakukan sesuatu dengan 'Excellent"? Kenapa fikiran itu muncul? Kerana, kita berfikir, apa yang kita lakukan, kita lakukan untuk manusia.

Yesus mengatakan dalam Matius 25:40 "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." Sebelum ayat 40, Yesus mengatakan "Ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku" Matius 25:35-36.

Ketika Yesus ditanya, bila semua (Ay.35-36) itu terjadi kepada Dia (Lapar, haus, orang asing, telanjang, sakit & banduan) ? Yesus mengatakan bahawa Dia turut merasakan semua penderitaan yang dialami oleh setiap orang di dunia ini.

Jika hari ini Anda melihat seseorang yang dalam keadaan lapar, haus, terasing atau diasingkan, sakit, tidak ada pakaian atau dipenjarakan kerana apa saja kesalahan, apakah 'respon' (tindak balas) Anda? Apakah Anda akan katakan, "Uruslah dirimu sendiri...aku uruskan diriku sendiri" atau "Itulah kamu...kalau kamu tidak mencuri, kamu tidak akan dipenjarakan...kalau kamu bersekolah tinggi kamu tidak akan melarat...kalau kamu tidak melanggani pelacur kamu tidak akan terkena HIV/Aids..". Apakah itu respon Anda?

Yesus tidak pertanyakan kenapa mereka lapar, haus, telanjang, sakit atau dipenjarakan, hari ini Yesus bertanya apakah responmu?

Anda pasti akan melakukan yang 'Excellent' jika segala sesuatu yang Anda lakukan, semuanya tertuju kepada Tuhan dan bukan kepada manusia semata-mata. Bila itu tertuju kepada Tuhan, Anda akan lakukan semua yang terbaik dan sesuai dengan kebenaran firman Tuhan melalui hidup Anda.

RENUNGKAN:

Selama ini, mungkin Anda berfikir, "pekerjaan atau pemberian yang terbaik itu hanya yang saya lakukan di gereja". Itu tidak tepat, kerana Tuhan menghargai apapun (Tidak bertentengan dengan firman Tuhan) yang Anda lakukan.
Anda mungkin berkata, "Saya tidak dapat kerjakan... kerana saya tidak ada kemahiran mengerjakannya..." atau Anda berfikir "Nanti saja... senang saja kerjakan bah itu...", sehingga menghasilkan sikap bukan dengan "segenap hati". Hari ini, Tuhan mahu Anda lakukan segala sesuatu dengan sikap "Segenap hati".

Jangan menuntut, "apa yang saya akan dapat?", ketika Anda melakukan yang terbaik untuk orang lain kerana semua yang Anda lakukan itu tertuju kepada Yesus. Jika Anda ingin menyenangkan hati Tuhan, lakukan sesuatu yang terbaik kepada yang "paling hina" iaitu orang-orang di sekeliling Anda yang memerlukan bantuan.

Tuhan memberkati.
By : Elson Sinurat
VISI

Menjangkau setiap orang dengan Injil, Memuridkan mereka sesuai dengan Amanat agung Tuhan Yesus Kristus,
Mengutus setiap anggota jemaat untuk menjadi saksi di tengah dunia, Membangun kehidupan kekristenan dalam jemaat lokal menurut pola gereja mula-mula secara otentik seperti yang dicatat di dalam kitab Perjanjian Baru

MISI

Membangun pemimpin-pemimpin masa depan melalui jemaat lokal


FILOSOFI PELAYANAN

- KeTuhanan Yesus Kristus
- Mentalitas Kerajaan Allah
- Melakukan yang terbaik menurut kehendak Allah
- Pengabdian diri

Widget By: Elson Sinurat



JADWAL PELAYAN GKJB  PALEMBANG
JANUARY 2013

Minggu 1
Ket
Umum Minggu 
      6 Jan 2013
S.Minggu
Kesan Selasa
 8 Jan 2013
Kesan Rabu
9  Jan 2013
Doa Jumat
11  Jan 2013
Image sabtu
12 Jan 2013
WL
Singers
A. Kristien
Eva & i.Sitompul
Pnt. M Sitompul


A Kristien
Renny
FA


B. Silaban
M.Silaban/ 70
Pnt E Sinurat
Pdt. P Silaban
Tempat







Minggu 2
Ket
Umum Minggu 
      13 Jan 2013
S.Minggu
Kesan Selasa
 15 Jan 2013
Kesan Rabu
16 Jan 2013
Doa Jumat
18 Jan
Image sabtu
19 Jan
WL
Singers
Eva. Sihombing
 A. Kristien & Sortha

 Eva


Djuniar
Rensus
FA


A. Silaban
DJuniar
S Na 70
Pnt. E.Sinurat
Tempat







Minggu 3
Ket
Umum Minggu 
      20 Jan 2013
S.Minggu
Kesan Selasa
 22 Jan
Kesan Rabu
23 Jan
Doa Jumat
25 Jan
Image sabtu
26 Jan
WL
Singers
          Djuniar
TP.S  & B Silaban

 R. Simamora


Pnt. M Sitompul

FA


Pnt. E Sinurat
Pnt. E Sinurat.
Djuniar
Pnt. M.Sitompul
Tempat







Minggu 4
Ket
Umum Minggu 
     27 Jan 2013
S.Minggu
Kesan Selasa
29 Jan
Kesan Rabu
30 Jan
Doa Jumat
28  Des
Image sabtu
29  Des
WL
Singers
Pnt.M Sitompul
TP.S & A.Silaban

 A. Kristien


A.Kristien

FA


Pdt.P. Silaban
 A.Silaban
M.Silaban/N70
Pnt.E. Sinurat
Tempat










Streaming




Listen via Iphone & Blackberry








Widget By: Elson Sinurat

KETIKA AGAMA SUDAH MERASA TERNISTAKAN

Dalam kehidupan di dunia ini tidak terlepas dari berbagai masalah, dimana masalah itu beragam dan mungkin setiap manusia berbeda-beda masala...